MAKALAH TUGAS PKN TENTANG Model Pembelajaran PAIKEM dan Implementasinya dalam Pembelajaran PKn sd Kelompok 4 (Dr. Dirgantara Wicaksono M.Pd)
Model Pembelajaran PAIKEM dan Implementasinya dalam
Pembelajaran PKn sd
Disusun
Untuk Melengkapi Tugas Mata Kuliah :
Pengembangan
Pembelajaran PKn di SD
Dosen
:
Dr.
Dirgantara Wicaksono, M.Pd.
Oleh
:
Winda
Misye Pramesti (2015820007)
Rani
Novianti (2015820011)
Maya
Noprilia (2015820028)
Gita
Destriani (2015820036)
Heriza
Windayanti (2015820126)
Angina
Rolian Nasution (2015820022)
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS
ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH JAKARTA
2017
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. karena atas berkat rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini mengenai “Model Pembelajaran PAIKEM & Implementasinya dalam Pembelajaran PKn SD” sesuai dengan waktu yang ditetapkan. Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Perencanaan Pembelajaran. Kami menyusun makalah ini mencoba memberikan suatu pemahaman yang berguna untuk pembaca. Serta mengembangkan minat untuk mempelajarinya
Harapan kami semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi siapa saja yang
membacanya khususnya untuk teman-teman yang memiliki background pendidikan.
kami menyadari bahwa makalah ini masih sangat rapuh dan jauh dari kata
sempurna. Sehingga kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan.
Jakarta,
17 Oktober 2017
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................................................... i
DAFTAR ISI................................................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................................... 1
A. Latar Belakang....................................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah.................................................................................................................. 1
C. Tujuan Masalah....................................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN............................................................................................................. 3
A. Pengertian
Model Pembelajaran PAIKEM............................................................................... 3
B. Ciri-Ciri Model Pembelajaran
PAIKEM............................................................................... 9
C. Prinsip-Prinsip Model
Pembelajaran PAIKEM................................................................... 10
D. Hal-Hal yang Perlu diperhatikan
dalam Melaksanakan PAIKEM..................................... 13
E. Penerapan Model Pembelajaran
PAIKEM.......................................................................... 16
F. Peran Guru dalam Pembelajaran
PAIKEM......................................................................... 20
G. Model Pembelajaran yang
berorientasi pada PAIKEM..................................................... 24
H. Kendala dan Tips dalam Model
Pembelajaran................................................................... 29
I. Kekurangan dan Kelebihan Model
Pembelajaran PAIKEM................................................ 32
J. Implementasi Pembelajaran PAIKEM
di SD....................................................................... 34
BAB III PENUTUP..................................................................................................................... 41
Kesimpulan.................................................................................................................................. 41
Saran............................................................................................................................................ 41
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................................. 42
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Pembelajaran
merupakan salah satu unsur penentu baik tidaknya lulusan yang dihasilkan oleh
suatu sistem pendidikan. Pembelajaran ibarat jantung dari proses pendidikan.
Pembelajaran yang baik cenderung menghasilkan lulusan dengan hasil belajar yang
baik pula, demikian pula sebaliknya.
Pada
kenyataan dilapangan hasil belajar siswa selama ini masih kurang dan belum
sesuai dengan yang diharapkan, baik secara intelektual maupun sikap. Siswa
belum mencapai tahap kompetensi yang ideal. Oleh karena itu perlu adanya
perubahan dalam proses pembelajaran dari kebiasaan yang sudah berlangsung
selama ini. Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis akan mencoba
membahas Model PAIKEM karena pembelajaran ini dirancang agar mengaktifkan anak,
mengembangkan kreativitas sehingga efektif namun tetap menyenangkan.
B. Rumusan
Masalah
1. Apa
Pengertian dari Model Pembelajaran PAIKEM?
2. Apa Saja Ciri-Ciri Model Pembelajaran PAIKEM?
3. Apa
Saja Prinsip-Prinsip Pembelajaran PAIKEM?
4. Apa
Saja Hal-Hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan PAIKEM?
5. Bagaimana
Penarapan Pembelajaran PAIKEM?
6. Bagaimana
Peran Guru dalam Pembelajaran PAIKEM?
7. Apa
Saja Model Pembelajaran yang Berorientasi pada PAIKEM?
8. Apa
Saja Kendala dan Tips dalam Model Pembelajaran PAIKEM?
9. Apa
Saja Kekurangan dan Kelebihan Model Pembelajaran PAIKEM?
10. Bagaimana
Implemetasi Model Pembelajaran PAIKEM dalam Pembelajaran PKn SD?
C. Tujuan
Masalah
1. Untuk
Mengetahui Apa Pengertian dari Model Pembelajaran PAIKEM.
2. Untuk
Mengetahui Apa Saja Ciri-Ciri Model Pembelajaran PAIKEM.
3. Untuk
Mengetahui Apa Saja Prinsip-Prinsip Model Pembelajaran PAIKEM.
4. Untuk
Megetahui Apa Saja Hal-Hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan PAIKEM.
5. Untuk
Mengetahui Bagaimana Penerapan Pembelajaran PAIKEM.
6. Untuk
Megetahui Bagaimana Peran Guru dalamPembelajaran PAIKEM.
7. Untuk
Mengetahui Apa Saja Model Pembelajaran yang Berorientasi pada PAIKEM.
8. Untuk
Mengetahui Apa Saja Kendala dan Tips dalam Model Pembelajaran PAIKEM.
9. Untuk
Mengetahui Apa Saja Kekurangan dan Kelebihan Model Pembelajaran PAIKEM.
10. Untuk
Mengetahui Bagaimana Implemetasi Model Pembelajaran PAIKEM dalam Pembelajaran
PKn SD.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
dari Model Pembelajaran PAIKEM
PAIKEM
adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan
Menyenangkan. Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus
menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya,
mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan.
Pembelajaran inovatif bisa mengadaptasi dari model pembelajaran yang
menyenangkan. Learning is fun merupakan kunci yang diterapkan dalam
pembelajaran inovatif. Jika siswa sudah menanamkan hal ini di pikirannya tidak
akan ada lagi siswa yang pasif di kelas, perasaan tertekan dengan tenggat waktu
tugas, kemungkinan kegagalan, keterbatasan pilihan, dan tentu saja rasa bosan. Membangun metode pembelajaran inovatif
sendiri bisa dilakukan dengan cara diantaranya mengakomodir setiap
karakteristik diri. Artinya mengukur daya kemampuan serap ilmu masing-masing
orang. Contohnya saja sebagian orang ada yang berkemampuan dalam menyerap ilmu
dengan menggunakan visual atau mengandalkan kemampuan penglihatan, auditory
atau kemampuan mendengar, dan kinestetik. Dan hal tersebut harus disesuaikan
pula dengan upaya penyeimbangan fungsi otak kiri dan otak kanan yang akan mengakibatkan
proses renovasi mental, diantaranya membangun rasa percaya diri siswa. Kreatif dimaksudkan agar guru
menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat
kemampuan siswa. Menyenangkan adalah suasana belajar-mengajar yang menyenangkan
sehingga siswa memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar sehingga waktu
curah perhatiannya (“time on task”) tinggi.
Menurut
hasil penelitian, tingginya waktu curah perhatian terbukti meningkatkan hasil
belajar. Keadaan aktif dan menyenangkan tidaklah cukup jika proses pembelajaran
tidak efektif, yaitu tidak menghasilkan apa yang harus dikuasai siswa setelah
proses pembelajaran berlangsung, sebab pembelajaran memiliki sejumlah tujuan
pembelajaran yang harus dicapai. Jika pembelajaran hanya aktif dan menyenangkan
tetapi tidak efektif, maka pembelajaran tersebut tak ubahnya seperti bermain
biasa. Siswa tidak memungkiri metode
“PAIKEM” sama dengan pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif dan
menyenangkan” merupakan metode yang sangat mengerti dan memahami kondisi siswa.
bagaimana guru menyampaikan materi merupakan penilaian utama siswa, seorang
guru mempunyai wawasan yang luas akan tergambar dengan cara bagaimana seorang
guru menyampaikan pembelajaran di kelas, fokus terhadap materi dan penyampaian
yang mudah dimengerti oleh siswa. peduli terhadap siswa dan tidak pilih-memilih
(diskriminatif), performance yang menarik serta bisa dijadikan partner dalam
berdiskusi dan berkeluh kesah merupakan sekian banyak kriteria yang siswa sampaikan
jika seorang guru ingin menjadi favorit di mata siswa (Herman, 2008).
1. Pembelajaran
Aktif
Pembelajaran
aktif merupakan pendekatan pembelajaran yang lebih banyak melibatkan aktivitas
siswa dalam mengakses berbagai informasi dan pengetahuan untuk dibahas dan
dikaji dalam proses pembelajaran di kelas, sehingga mereka mendapatkan berbagai
pengalaman yang dapat meningkatkan pemahaman dan kompetensinya. Dalam
pembelajaran aktif, guru lebih banyak memposisikan dirinya sebagai fasilitator,
yang bertugas memberikan kemudahan belajar (to facilitate of learning) kepada
siswa. Dalam kegiatan ini siswa terlibat secara aktif dan berperan dalam
proses pembelajaran, sedangkan guru lebih banyak memberikan arahan dan
bimbingan, serta mengatur sirkulasi dan jalannya proses
pembelajaran. (Rusman, 2010: 322-324).
2. Pembelajaran
Inovatif
Pembelajaran
inovatif juga merupakan strategi pembelajaran yang mendorong aktivitas belajar.
Maksud inovatif disini adalah dalam kegiatan pembelajaran itu terjadi hal-hal
yang baru, bukan saja oleh guru sebagai fasilitator belajar, tetapi juga oleh
siswa yang sedang belajar. Dalam strategi pembelajaran yang inovatif ini, guru
tidak saja tergantung dari materi pembelajaran yang ada pada buku, tetapi dapat
mengimplementasikan hal-hal baru yang menurut guru sangat cocok dan relevan
dengan masalah yang sedang dipelajari siswa. Demikian pula siswa, melalui
aktivitas belajar yang dibangun melalui strategi ini, siswa dapat menemukan
caranya sendiri untuk memperdalam hal-hal yang sedang dia pelajari.
Pembelajaran yang inovatif bagi guru dapat digunakan untuk menerapkan
temuan-temuan terbaru dalam pembelajaran, terlebih lagi jika temuan itu
merupakan temuan guru yang pernah ditemukan dalam penelitian tindakan kelas
atau sejumlah pengalaman yang telah ditemukan selama menjadi guru. Melalui
pembelajaran yang inovatif ini, siswa tidak akan buta tentang teknologi dan
mereka bisa mengikuti perkembangan teknologi yang ada sekarang ini. Dengan
demikian pembelajaran diwarnai oleh hal-hal baru sesuai perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi. (Uno, 2012: 11).
3. Pembelajaran
Kreatif
Pembelajaran
kreatif merupakan proses pembelajaran yang mengharuskan guru untuk dapat
memotivasi dan memunculkan kreativitas siswa selama pembelajaran berlangsung,
dengan menggunakan beberapa metode dan strategi yang bervariasi, misalnya kerja
kelompok, bermain peran, dan pemecahan masalah. Pembelajaran kreatif menuntut
guru untuk merangsang kreativitas siswa, baik dalam mengembangkan kecakapan
berpikir maupun dalam melakukan suatu tindakan. Berpikir kreatif selalu
dimulai dengan berpikir kritis, yakni menemukan dan melahirkan
sesuatu yang sebelumnya tidak ada atau memperbaiki sesuatu.Berpikir kritis
harus dikembangkan dalam proses pembelajaran agar siswa terbiasa mengembangkan
kreativitasnya. Pada umumnya, berpikir kreatif memiliki empat tahapan sebagai
berikut, yaitu:
1) Tahapan
pertama; persiapan, yaitu proses pengumpulan informasi untuk diuji.
2) Tahap
kedua; inkubasi, yaitu suatu rentang waktu untuk merenungkan hipotesis
informasi tersebut sampai diperoleh keyakinan bahwa hipotesis tersebut
rasional.
3) Tahap
ketiga; iluminasi, yaitu suatu kondisi untuk menemukan keyakinan bahwa
hipotesis tersebut benar, tepat dan rasional.
4) Tahap
keempat; verifikasi, yaitu pengujian kembali hipotesis untuk dijadikan sebuah
rekomendasi, konsep, atau teori.
Siswa
dikatakan kreatif apabila mampu melakukan sesuatu yang menghasilkan sebuah
kegiatan baru yang diperoleh dari hasil berpikir kreatif dengan mewujudkannya
dalam bentuk sebuah hasil karya baru. (Mulyasa, 2006: 192)
4. Pembelajaran
Efektif
Pembelajaran
dapat dikatakan efektif jika mampu memberikan pengalaman baru kepada siswa
membentuk kompetensi siswa, serta mengantarkan mereka ke tujuan yang ingin
dicapai secara optimal. Hal ini dapat dicapai dengan melibatkan serta mendidik
mereka dalam perencanaan, pelaksanaan dan penilaian pembelajaran. Seluruh siswa
harus dilibatkan secara penuh agar bergairah dalam pembelajaran, sehingga
suasana pembelajaran betul-betul kondusif dan terarah
pada tujuan dan pembentukan kompetensi siswa. Pembelajaran efektif menuntut
keterlibatan siswa secara aktif, karena mereka merupakan pusat kegiatan
pembelajaran dan pembentukan kompetensi. Siswa harus didorong untuk menafsirkan
informasi yang disajikan oleh guru sampai informasi tersebut dapat diterima
oleh akal sehat. Dalam pelaksanaannya perlu proses penukaran pikiran,
diskusi, dan perdebatan dalam rangka pencapaian pemahaman yang sama terhadap materi
standar yang harus dikuasai siswa. Pembelajaran efektif perlu didukung oleh
suasana dan lingkungan belajar yang memadai/kondusif. Oleh karena itu guru
harus mampu mengelola siswa, mengelola kegiatan pembelajaran, mengelola
isi/materi pembelajaran, dan mengelola sumber-sumber belajar. Menciptakan kelas
yang efektif dengan peningkatan efektivitas proses pembelajaran tidak bisa
dilakukan secara parsial,melainkan harus menyeluruh mulai dari perencanaan,
pelaksanaan, dan evaluasi. Proses pelaksanaan pembelajaran efektif dilakukan
melalui prosedur sebagai
berikut:(1) melakukan appersepsi, (2)melakukan
eksplorasi, yaitu memperkenalkan materi pokok dan kompetensi dasar yang akan
dicapai, serta menggunakan variasi metode, (3) melakukan konsolidasi pembelajaran,
yaitu mengaktifkan siswa dalam pembentukan kompetensi siswa dan mengaitkannya
dengan kehidupan siswa, (4) melakukan penilaian, yaitu mengumpulkan
fakta-fakta dan data/dokumen belajar siswa yang valid untuk melakukan
perbaikan program pembelajaran. Untuk melakukan pembelajaran yang efektif ,
guru harus memerhatikan beberapa hal, sebagai berikut: (1) pengelolaan tempat
belajar, (2) pengelolaan siswa, (3) pengelolaan kegiatan pembelajaran, (4)
pengelolaan konten/materi pelajaran, dan (5) pengelolaan media dan sumber
belajar. (Rusman, 2010: 325-326).
5. Pembelajaran
Menyenangkan
Pembelajaran
menyenangkan (joyfull instruction) merupakan suatu proses pembelajaran yang di
dalamnya terdapat suatu kohesi yang kuat antara guru dan siswa, tanpa ada
perasaan terpaksa atau tertekan ( not under pressure) (Mulyasa,
2006:194).Dengan kata lain, pembelajaran menyenangkan adalah adanya pola
hubungan yang baik antara guru dengan siswa dalam proses pembelajaran. Guru
memposisikan diri sebagai mitra belajar siswa, bahkan dalam hal tertentu tidak
menutup kemungkinan guru belajar dari siswanya. Dalam hal ini perlu diciptakan
suasana yang demokratis dan tidak ada beban, baik guru maupun siswa dalam
melakukan proses pembelajaran. Untuk mewujudkan proses pembelajaran yang menyenangkan,
guru harus mampu merancang pembelajaran dengan baik, memilih materi yang tepat,
serta memilih dan mengembangkan strategi yang dapat melibatkan siswa secara
optimal.Ada empat aspek yang memengaruhi model PAIKEM, yaitu pengalaman,
komunikasi, interaksi, dan refleksi. Apabila dalam suatu pembelajaran terdapat
empat aspek tesebut, maka pembelajaran PAIKEM terpenuhi.
1) Pengalaman
Aspek
pengalaman ini siswa diajarkan dapat belajar mandiri. Di dalamnya terdapat
banyak cara untuk penerapannya antara lain seperti eksperimen, pengamatan,
penyelidikan , dan wawancara. Aspek pengalaman ini siswa belajar banyak melalui
berbuat dan dengan melalui pengalaman langsung.
2) Komunikasi
Aspek
komunikasi ini dapat dilakukan dengan beberapa bentuk, misalnya; mengemukakan
pendapat, peresentasi laporan, dan memajangkan hasil kerja. Kegiatan ini siswa
dapat mengungkapakan gagasan, dapat mengkonsolidasi pikirannya, mengeluarkan
gagasannya, memancing gagasan orang lain, dan membuat bangunan makna mereka
dapat diketahui oleh guru.
3) Interaksi
Aspek
interaksi ini dapat dilakukan dengan cara interaksi, Tanya jawab, dan saling
melempar pertanyaan. Dengan hal-hal seperti itulah kesalahan makna yang
diperbuat oleh siswa-siswa berpeluang untuk terkorelasi dan makna yang terbangun
semakin mantap, sehingga dapat menyebabkan hasil belajar meningkat.
4)
Refleksi
Aspek ini yang dilakukan adalah
memikirkan kembali apa yang telah diperbuat/dipikirkan oleh siswa selama mereka
belajar. Hal ini dilakukan supaya terdapatnya perbaikan gagasan/makna yang
telah dikeluarkan oleh siswa dan agar mereka tidak mengulangi kesalahan. Di
sini siswa diharapkan juga dapat menciptakan gagasan-gagasan
baru. . (Rusman, 2010: 325-329).
Sehingga dalam Model Pembelajaran
PAIKEM guru & siswa dituntut untuk lebih aktif, inovatif, kreatif, efektif,
dan menyenangkan. Misalnya dalam pembelajaran PKn kelas 3 tentang Bangga
Sebagai Bangsa Indonesia. Contohnya pada materi diatas guru mengajak siswa
melakukan proses pembelajaran memalui model Bermain Peran, disini siswa
dituntut untuk ikut aktif, kreatif dalam memperkenalkan budaya, sehingga
pembelajaran didalam kelas menjadi menyenangkan bagi siswa. Dan guru juga dapat
menyampaikan pembelajaran secara efektif.
B. Ciri-Ciri
Model Pembelajaran PAIKEM
Secara
garis besar, ciri-ciri PAIKEM menurut pelatihan Manajemen Berbasis Sekolah
(MBS) adalah sebagai berikut:
a)
Siswa terlibat dalam berbagai
kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan
pada belajar melalui berbuat (learning to do).
b)
Guru menggunakan berbagai alat bantu
dan cara membangkitkan semangat, termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber
belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan, dan cocok bagi
siswa.
c)
Guru mengatur kelas dengan memajang
buku-buku dan bahan belajar yang lebih menarik dan menyediakan “pojok baca”.
d)
Guru menerapkan cara mengajar yang
lebih kooperatif dan interaktif, termasuk cara belajar kelompok.
e)
Guru mendorong siswa untuk menemukan
caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasannya,
dan melibatkam siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya.
Sedangkan
menurut Rose dan Nocholl dalam (Jamal Ma’mur Asmani, 2011:84)mengatakan
bahwa ciri-ciri pembelajaran yang menyenangkan adalah sebagai berikut.
a) Menciptakan
lingkungan tanpa stres (rileks), yaitu lingkungan yang aman untuk melakukan
kesalahan, namun dengan harapan akan mendapatkan kesuksesan yang lebih tinggi.
b) Menjamin
bahwa bahan ajar itu relevan.
c) Menjamin
bahwa belajar secara emosional adalah positif. Pada umumnya, hal tersebut dapat
terjadi ketika belajar dilakukan bersama orang lain, ketika ada humor dan
dorongan semangat, waktu rehat dan jeda yang teratur, serta dukungan antusias.
d) Melibatkan
secara sadar semua indra dan otak kiri maupun kanan.
e) Menentang
peserta didik untuk dapat berpikir jauh ke depan dan mengekspresikan apa yang
sedang dipelajari, dan sebanyak mungkin kecerdasan yang relevan untuk memahami
bahan ajar.
PAIKEM merupakan
sebuah model pembelajaran kontekstual yang melibatkan paling sedikit empat
prinsip utama dalam proses pembelajarannya. Pertama, proses Interaksi (siswa
berinteraksi secara aktif dengan guru, rekan siswa, multi-media, referensi,
lingkungan dsb). Kedua, proses Komunikasi (siswa mengkomunikasikan pengalaman
belajar mereka dengan guru dan rekan siswa lain melalui cerita, dialog atau
melalui simulasi role-play). Ketiga, proses Refleksi, (siswa memikirkan
kembali tentang kebermaknaan apa yang mereka telah pelajari, dan apa yang
mereka telah lakukan). Keempat, proses Eksplorasi (siswa mengalami langsung
dengan melibatkan semua indera mereka melalui pengamatan, percobaan,
penyelidikan dan/atau wawancara). (Jamal Ma’mur Asmani, 2011:84).
C. Prinsip-Prinsip
Model Pembelajaran PAIKEM
Pelaksanaan
pembelajaran yang mengutamakan aspek keaktifan, kreatifitas dan inovatif,
sehingga membuat pembelajaran menjadi efektif dan menyenangkan, menuntut guru
untuk menguasai berbagai metode mengajar serta keterampilan dasar mengajar.
Penguasaan berbagai metode mengajar tersebut akan memberi keleluasaan untuk
memilih metode yang sesuai dengan metode yang sesuai dengan tujuan, materi,
peserta didik dan aspek-aspek lainnya, sehingga prinsip-prinsip PAIKEM dapat
diterapkan secara optimal.
Prinsip-prinsip
pembelajaran PAIKEM antara lain:
a. Mengalami
: Peserta didik terlibat secara aktif baik fisik, mental maupun emosional.
Melalui pengalaman langsung pembelajaran akan lebih memberi makna kepada sisa
dari pada hanya mendengarkan.
b. Komunikasi
: Kegiatan pembelajaran memungkinkan terjadinya komunikasi antara guru dan
peserta didik.
c. Interaksi
: Kegiatan pembelajarannya memungkinkan terjadinya interaksi multi arah.
d. Refleksi
: Kegiatan pembelajarannya memungkinkan peserta didik memikirkan kembali apa
yang telah dilakukan. Proses refleksi sangat perlu dilakukan untuk mengetahui
sejauhmana ketercapaian proses pembelajaran.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa
indikator dan prinsip-prinsip penerapan PAIKEM adalah sebagai berikut.
Indikator
dan Prinsip-prinsip Penerapan PAIKEM
|
No.
|
Indikator
Proses
|
Penjelasan
|
Metode
|
|
1.
|
Pekerjaan
Peserta Didik(Diungkapkan dengan bahasa/kata-kata peserta didik sendiri)
|
PAIKEM
sangat mengutamakan agar peserta didik mampu berpikir, berkata-kata, dan
mengungkap sendiri.
|
Guru
membimbing peserta didik dan memajang hasil karyanya agar dapat saling
belajar.
|
|
2.
|
Kegiatan
Peserta Didik
(peserta
didik banyak diberi kesempatan untuk mengalami atau melakukan sendiri)
|
Bila
peserta didik mengalami atau mengerjakan sendiri, mereka belajar meneliti
tentang apa saja.
|
Guru
dan peserta didik interaktif dan hasil pekerjaan peserta didik dipajang untuk
meningkatkan motivasi.
|
|
3.
|
Ruangan
Kelas
(penuh
pajangan hasil karya peserta didik dan alt peraga sederhana buatan guru dan
peserta didik)
|
Banyak
yang dipajang di kelas dan dari pajangan hasil itu peserta didik saling
belajar. Alat peraga yang sering dipergunakan diletakkan strategis.
|
Pengamatan
ruangan kelas dan dilihat apa saja yang dibutuhkan untuk dipajang, di mana,
dan bagaimana memajangnya.
|
|
4.
|
Penataan
Meja dan Kursi
(Meja
dan kursi tempat belajar peserta didik dapat diatur secara fleksibel)
|
Guru
melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan berbagai cara/metode/teknik,
misalnya melalui kerja kelompok, diskusi, atau aktivitas peserta didik secara
individual.
|
Diskusi,
kerja kelompok, kerja mandiri, pendekatan individual guru kepada murid yang
prestasinya kurang baik, dan lain sebagainya.
|
|
5.
|
Suasana
bebas
(Peserta
didik memiliki dukungan suasana bebas untuk menyampaikan atau mengungkapkan
pendapat).
|
Peserta
didik dilatih untuk mengungkapkan pendapat secara bebas, baik dalam diskusi,
tulisan, maupun kegiatan lain.
|
Guru
dan sesama peserta didik mendengarkan dan menghargai pendapat peserta didik
lain, diskusi, dan kerja individual.
|
|
6.
|
Umpan
Balik Guru
(guru
memberi tugas yang bervariasi dan secara langsung memberi umpan balik agar
peserta didik segera memperbaiki kesalahan).
|
Guru
memberikan tugas yang mendorong peserta didik bereksplorasi; dan guru
memberikan bimbingan individual atau pun kelompok dalam hal penyelesaian
masalah.
|
Penugasan
individual atau kelompok; bimbingan langsung; dan penyelesaian masalah.
|
|
7.
|
Sudut
Baca
(Sudut
kelas sangat baik bila diciptakan sebagai sudut baca untuk peserta didik)
|
Sawah,
lapangan, pohon, sungai, kantor Pos, Puskesmas, stasiun dan lain-lain
dioptimalkan pemanfaatannya untuk pembelajaran.
|
Observasi
kelas, diskusi, dan pendekatan terhadap orangtua.
|
|
8.
|
Lingkungan
Sekitar
(Lingkungan
sekitar sekolah dijadikan media pembelajaran)
|
Sawah,
lapangan, pohon, sungai, Kantor Pos, Puskesmas, stasiun dan lain-lain
dioptimalkan pemanfaatannya untuk pembelajaran.
|
Observasi
lapangan, eksplorasi, diskusi kelompok, tugas individual, dan lain-lain.
|
D. Hal-Hal
yang Perlu Diperhatikan dalam Melaksanakan PAIKEM
A. Memahami sifat yang dimiliki anak
Pada
dasarnya anak memiliki sifat: rasa ingin tahu dan berimajinasi. Anak desa, anak
kota, anak orang kaya, anak orang miskin, anak Indonesia, atau anak bukan
Indonesia – selama mereka normal – terlahir memiliki kedua sifat itu. Kedua
sifat tersebut merupakan modal dasar bagi berkembangnya sikap/berpikir kritis
dan kreatif. Kegiatan pembelajaran merupakan salah satu lahan yang harus kita
olah sehingga subur bagi berkembangnya kedua sifat, anugerah Tuhan, tersebut.
Suasana pembelajaran dimana guru memuji anak karena hasil karyanya, guru
mengajukan pertanyaan yang menantang, dan guru yang mendorong anak untuk
melakukan percobaan, misalnya, merupakan pembelajaran yang subur seperti
apayang dimaksud
B. Mengenal anak secara perorangan
Para
siswa berasal dari lingkungan keluarga yang bervariasi dan memiliki kemampuan
yang berbeda. Dalam PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, kreatif, Efektif dan
Menyenangkan) perbedaan individual perlu diperhatikan dan harus tercermin dalam
kegiatan pembelajaran. Semua anak dalam kelas tidak selalu mengerjakan kegiatan
yang sama, melainkan berbeda sesuai dengan kecepatan belajarnya. Anak-anak yang
memiliki kemampuan lebih dapat dimanfaatkan untuk membantu temannya yang lemah
(tutor sebaya). Dengan mengenal kemampuan anak, kita dapat membantunya bila
mendapat kesulitan sehingga belajar anak tersebut menjadi optimal.
C. Memanfaatkan perilaku anak dalam
pengorganisasian belajar
Sebagai
makhluk sosial, anak sejak kecil secara alami bermain berpasangan atau
berkelompok dalam bermain. Perilaku ini dapat dimanfaatkan dalam
pengorganisasian belajar. Dalam melakukan tugas atau membahas sesuatu, anak
dapat bekerja berpasangan atau dalam kelompok. Berdasarkan pengalaman, anak
akan menyelesaikan tugas dengan baik bila mereka duduk berkelompok. Duduk
seperti ini memudahkan mereka untuk berinteraksi dan bertukar pikiran. Namun
demikian, anak perlu juga menyelesaikan tugas secara perorangan agar bakat
individunya berkembang
D. Mengembangkan kemampuan berpikir
kritis, kreatif, dan kemampuan memecahkan masalah.
Pada
dasarnya hidup ini adalah memecahkan masalah. Hal ini memerlukan kemampuan
berpikir kritis dan kreatif. Kritis untuk menganalisis masalah; dan kreatif
untuk melahirkan alternatif pemecahan masalah. Kedua jenis berpikir tersebut, kritis
dan kreatif, berasal dari rasa ingin tahu dan imajinasi yang keduanya ada pada
diri anak sejak lahir. Oleh karena itu, tugas guru adalah mengembangkannya,
antara lain dengan sering-sering memberikan tugas atau mengajukan pertanyaan
yang terbuka. Pertanyaan yang dimulai dengan kata-kata “Apa yang terjadi jika
…” lebih baik daripada yang dimulai dengan kata-kata “Apa, berapa, kapan”, yang
umumnya tertutup (jawaban betul hanya satu).
E. Mengembangkan ruang kelas sebagai
lingkungan belajar yang menarik
Ruang
kelas yang menarik merupakan hal yang sangat disarankan dalam PAIKEM. Hasil
pekerjaan siswa sebaiknya dipajangkan untuk memenuhi ruang kelas seperti itu.
Selain itu, hasil pekerjaan yang dipajangkan diharapkan memotivasi siswa untuk
bekerja lebih baik dan menimbulkan inspirasi bagi siswa lain. Yang dipajangkan
dapat berupa hasil kerja perorangan, berpasangan, atau kelompok. Pajangan dapat
berupa gambar, peta, diagram, model, benda asli, puisi, karangan, dan
sebagainya. Ruang kelas yang penuh dengan pajangan hasil pekerjaan siswa, dan
ditata dengan baik, dapat membantu guru dalam pembelajaran karena dapat
dijadikan rujukan ketika membahas suatu masalah.
F. Memanfaatkan lingkungan sebagai
sumber belajar
Lingkungan
(fisik, sosial, atau budaya) merupakan sumber yang sangat kaya untuk bahan
belajar anak. Lingkungan dapat berperan sebagai media belajar, tetapi juga
sebagai objek kajian (sumber belajar). Penggunaan lingkungan sebagai sumber
belajar sering membuat anak merasa senang dalam belajar. Belajar dengan
menggunakan lingkungan tidak selalu harus keluar kelas. Bahan dari lingkungan
dapat dibawa ke ruang kelas untuk menghemat biaya dan waktu. Pemanfaatan
lingkungan dapat mengembangkan sejumlah keterampilan seperti mengamati (dengan
seluruh indera), mencatat, merumuskan pertanyaan, berhipotesis,
mengklasifikasi, membuat tulisan, dan membuat gambar/diagram
G. Memberikan umpan balik yang baik
untuk meningkatkan kegiatan belajar
Mutu
hasil belajar akan meningkat bila terjadi interaksi dalam belajar. Pemberian
umpan balik dari guru kepada siswa merupakan salah satu bentuk interaksi antara
guru dan siswa. Umpan balik hendaknya lebih mengungkap kekuatan daripada
kelemahan siswa. Selain itu, cara memberikan umpan balik pun harus secara
santun. Hal ini dimaksudkan agar siswa lebih percaya diri dalam menghadapi
tugas-tugas belajar selanjutnya. Guru harus konsisten memeriksa hasil pekerjaan
siswa dan memberikan komentar dan catatan. Catatan guru berkaitan dengan
pekerjaan siswa lebih bermakna bagi pengembangan diri siswa daripada hanya
sekedar angka
H. Membedakan antara aktif fisik dan
aktif mental
Banyak
guru yang sudah merasa puas bila menyaksikan para siswa kelihatan sibuk bekerja
dan bergerak. Apalagi bangku dan meja diatur berkelompok serta siswa duduk
saling berhadapan. Keadaan tersebut bukanlah ciri yang sebenarnya dari PAIKEM.
Aktif mental lebih diinginkan daripada aktif fisik. Sering bertanya,
mempertanyakan gagasan orang lain, dan mengungkapkan gagasan merupakan
tanda-tanda aktif mental. Syarat berkembangnya aktif mental adalah tumbuhnya
perasaan tidak takut: takut ditertawakan, takut disepelekan, atau takut
dimarahi jika salah. Oleh karena itu, guru hendaknya menghilangkan penyebab
rasa takut tersebut, baik yang datang dari guru itu sendiri maupun dari temannya.
Berkembangnya rasa takut sangat bertentangan dengan ‘PAIKEM’.
E. Penerapan
Pembelajaran PAIKEM
1. Langkah-Langkah Pembelajarn PAIKEM
Sebagai
tahapan strategis pencapaian kompetensi, kegiatan PAIKEM perlu didesain dan
dilaksanakan secara efektif dan efisien sehingga memperoleh hasil maksimal.
Berdasarkan panduan penyusunan KTSP, kegiatan pembelajaran terdiri dari
kegiatan tatap muka, kegiatan tugas terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak
terstruktur. Sekolah standar, beban belajarnya dinyatakan dalam jam pelajaran
ditetapkan bahwa satu jam pelajaran tingkat SMA/SMK terdiri dari 45 menit, SMP
terdiri dari 40 menit, dan untuk SD terdiri dari 35 menit tatap muka untuk
Tugas Terstruktur dan Kegiatan Mandiri Tidak Terstruktur. Dalam hal ini guru perlu
mendesain kegiatan pembelajaran tatap muka, tugas terstruktur dan kegiatan
mandiri.
a. Kegiatan
Tatap Muka
Untuk
kegiatan tatap muka dilakukan dengan strategi bervariasi baik ekspositori
maupun diskoveri inkuiri. Metode yang digunakan seperti ceramah interaktif,
presentasi, diskusi kelas, diskusi kelompok, pembelajaran kolaboratif dan
kooperatif, demonstrasi, eksperimen, observasi di sekolah, ekplorasi dan kajian
pustaka atau internet, tanya jawab, atau simulasi. Tapi jika sudah ada sekolah
yang menerapkan sistem SKS, maka kegiatan tatap muka lebih disarankan dengan
strategi ekspositori. Namun demikian tidak menutup kemungkinan menggunakan
strategi diskoveri inkuiri. Metode yang digunakan seperti ceramah interaktif,
presentasi, diskusi kelas, tanya jawab, atau demonstrasi.
b. Kegiatan
Tugas terstruktur
Bagi
sekolah yang menerapkan sistem paket, kegiatan tugas terstruktur tidak
dicantumkan dalam jadwal pelajaran namun dirancang oleh guru dalam silabus
maupun RPP (Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran). Oleh karena itu
pembelajaran dilakukan dengan strategi diskoveri inkuiri. Metode yang digunakan
seperti penugasan, observasi lingkungan, atau proyek. Kegiatan tugas
terstruktur merupakan kegiatan pembelajaran yang mengembangkan kemandirian
belajar peserta didik, peran guru sebagai fasilitator, tutor, teman belajar.
Strategi yang disarankan adalah diskoveri inkuiri dan tidak disarankan dengan
strategi ekspositori. Metode yang digunakan seperti diskusi kelompok,
pembelajaran kolaboratif dan kooperatif, demonstrasi, eksperimen, observasi di
sekolah, ekplorasi dan kajian pustaka atau internet, atau simulasi.
c. Kegiatan
Mandiri Tidak Terstruktur
Kegiatan
mandiri tidak terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang dirancang oleh
guru. Strategi pembelajaran yang digunakan adalah diskoveri inkuiri dengan
metode seperti penugasan, observasi lingkungan, atau proyek.
PAIKEM
dapat diterapkan pada pembelajaran Pembelajaran kontekstual dengan pendekatan
konstruktivisme dipandang sebagai salah satu strategi yang memenuhi prinsip
pembelajaran berbasis kompetensi. Dengan lima strategi pembelajaran kontekstual
(contextual teaching and learning), yaitu relating, experiencing, applying,
cooperating, dan transferrini diharapkan peserta didik mampu mencapai
kompetensi secara maksimal.
Pemilihan
strategi ekspositori dilakukan atas pertimbangan:
·
karakteristik peserta didik dengan
kemandirian belum memadai;
·
sumber referensi terbatas;
·
jumlah pesera didik dalam kelas
banyak;
·
alokasi waktu terbatas; dan
·
jumlah materi (tuntutan kompetensi
dalam aspek pengetahuan) atau bahan banyak.
2. PAIKEM dalam Proses Pembelajaran
Secara
garis besar, PAIKEM dapat digambarkan sebagai berikut:
·
Siswa terlibat dalam berbagai
kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan
pada belajar melalui berbuat.
·
Guru menggunakan berbagai alat bantu
dan berbagai cara dalam membangkitkan semangat, termasuk menggunakan lingkungan
sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan, dan
cocok bagi siswa.
·
Guru mengatur kelas dengan memajang
buku-buku dan bahan belajar yang lebih menarik dan menyediakan ‘pojok baca’
·
Guru menerapkan cara mengajar yang
lebih kooperatif dan interaktif, termasuk cara belajar kelompok.
·
Guru mendorong siswa untuk menemukan
caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasannya,
dan melibatkam siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya.
PAIKEM
diperlihatkan dengan berbagai kegiatan yang terjadi selama KBM atau
pembelajaran di kelas. Pada saat yang sama, gambaran tersebut menunjukkan
kemampuan yang perlu dikuasai guru untuk menciptakan keadaan tersebut. Berikut
adalah tabel beberapa contoh kegiatan KBM dan kemampuan guru yang bersesuaian.
|
Kemampuan
Guru
|
Kegiatan
Belajar Mengajar
|
|
1.Guru
merancang dan mengelola KBM yang mendorong siswa untuk berperan aktif dalam
pembelajaran
|
Guru
melaksanakan berbagai KBM seperti:
· Percobaan
· Diskusi
kelompok
· Memecahkan
masalah
· Mencari
informasi
· Menulis
laporan/cerita/puisi
· Berkunjung
keluar kelas
· Bermain
peran
|
|
2.Guru
menggunakan alat bantu dan sumber yang beragam.
|
Sesuai
mata pelajaran, guru dapat menggunakan:
· Alat
yang tersedia atau yang dibuat sendiri
· Gambar
· Studi
kasus
· Nara
sumber
· Lingkungan
|
|
3.Guru
memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan keterampilan
|
Siswa:
· Melakukan
percobaan, pengamatan, atau wawancara
· Mengumpulkan
data/jawaban dan mengolahnya sendiri
· Menarik
kesimpulan
· Memecahkan
masalah, mencari rumus sendiri.
· Menulis
laporan hasil karya lain dengan kata-kata sendiri.
|
|
4. Guru
memberi kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasannya sendiri secara
lisan atau tulisan
|
Melalui:
· Diskusi
· Lebih
banyak pertanyaan terbuka
· Hasil
karya yang merupakan anak sendiri
|
|
5.Guru
menyesuaikan bahan dan kegiatan belajar dengan kemampuan siswa
|
· Siswa
dikelompokkan sesuai dengan kemampuan (untuk kegiatan tertentu)
· Bahan
pelajaran disesuaikan dengan kemampuan kelompok tersebut.
· Siswa
diberi tugas perbaikan atau pengayaan.
|
|
6.Guru
mengaitkan KBM dengan pengalaman siswa sehari-hari.
|
· Siswa
menceritakan atau memanfaatkan pengalamannya sendiri.
· Siswa
menerapkan hal yang dipelajari dalam kegiatan sehari-hari
|
|
7.Menilai
KBM dan kemajuan belajar siswa secara terus-menerus
|
· Guru
memantau kerja siswa.
· Guru
memberikan umpan balik
|
F. Peran
Guru dalam Pembelajaran PAIKEM
1. Peran yang Harus Dimainkan Guru
Ada
banyak peran yang harus dimain guru dalam proses pembelajaran. Peran-peran
tersebut adalah sebagai berikut.
a. Caregiver
(Pembimbing)
Predikat
sebagai pembimbing bukanlah hal yang mudah. Predikat ini erat sekali kaitannya
dengan praktik keseharian. Seseorang tidak mungkin disebut pembimbing jika
dalam realisasinya tidak mampu menjalankan tugas-tugasnya sebagai pembimbing,
guru harus mampu memperlakukan siswanya dengan respek dan sayang (atau juga
cinta).
Berikut
ini beberapa hal yang tidak boleh dilakukan oleh guru kepada anak didiknya, karena
akan meruntuhkan semangat anak dalam belajar, yang akhirnya akan menggagalkan
proses PAIKEM:
·
Tidak boleh meremehkan/merendahkan
siswa. Meskipun siswanya dari keluarga miskin atau dari kampung, tidak boleh
diremehkan. Semua siswa harus merasa diperlakukan dengan
respek.Guru tidak boleh membuat salah seorang siswa sebagai bahan
olok-olok atau joke (guyonan).
·
Tidak boleh memperlakukan kurang
adil terhadap sebagian siswa. Siswa-siswa harus tidak ada merasa dianaktirikan.
Semua siswa harus merasa disayang oelh gurunya.
·
Tidak boleh membenci pada sebagian
siswa. Guru tidak boleh mengeluarkan kata-kata membenci kepada siswa.Guru dapat
bersifat tegas atau bahkan keras ketika menerapkan hukuman/sanksi.
b. Model
(Contoh)
Gerak
gerik guru sebenarnya selalu diperhatikan oleh setiap siswa. Tindak tanduk,
perilaku, dan bahkan gaya guru mengajar pun akan sulit dihilangkan damenjadi
lam ingatan setiap siswa. Lebih besar lagi, karakter guru juga selalu
diteropong sekaligus dijadikan cermin oleh siswa-siswanya. Pada intinya guru
akan dicontoh siswanya, baik kebiasaan buruk maupun kebiasaan bagus.
c. Mentor
(Penasihat)
Adanya
hubungan batin atau emosional antara siswa dan gurunya, menyebabkan guru harus
berperan sebagai penasihat (mentor). Pada dasarnya, guru tidak sekedar
menyampaikan pelajaran di kelas, tanpa mempedulikan apakah siswanya paham atau
tidak, seolah-olah tidak mempunyai tanggung jawab untuk menjadikan siswa pandai
dalam materi pelajaran (ilmu) dan dalam menjaga nilai-nilai moralitas bangsa.
Lebih dari itu, guru harus sanggup menjadi penasihat pribadi masing-masing
siswa. Erat sekali kaitannya dengan peran pembimbing, guru harus sanggup
memberi nasihat ketika siswa membutuhkan.
Berikut
ini gambaran lengkap mangenai peran guru dan siswa dalam PAIKEM menurut Jamal
Ma’mur Asmani (2011:92) adalah.
1. Pembelajaran
aktif
a.
Guru aktif
a) Memantau
kegiatan belajar siswa
b) Memberi
umpan balik
c) Mengajukan
pertanyaan yang menantang
d) Mempertanyakan
gagasan siswa
b. Siswa
aktif
a) Membangun
konsep bertanya
b) Bertanya
c) Bekerja,
terlibat, dan berpartisipasi
d) Menemukan
dan memecahkan masalah
e) Mengemukakan
gagasan
f) Mempertanyakan
gagasan
2. Pembelajaran
inovatif
a. Guru
inovatif
a) Berperan
sebagai fasilitator pembelajaran
b) Mengimplementasikan
hal baru yang cocok dengan materi
b.
Siswa inovatif
a) Menemukan
cara untuk memperdalam materi
3. Pembelajaran
kreatif
a. Guru kreatif
a) Mengembangkan
kegiatan yang menarik dan beragam
b) Membuat
alat bantu belajar
c) Memanfaatkan
lingkungan
d) Mengelola
kelas dan sumber belajar
e) Merencanakan
proses dan hasil belajar
b. Siswa
kreatif
a) Membuat/merancang sesuatu
b) Menulis/mengarang
4. Pembelajaran
efektif
a. Guru
mencapai tujuan pembelajaran
b. Siswa
mencapai kompetensi yang diharapkan
5. Pembelajaran
menyenangkan
a. Siswa
senang karena :
a) Kegiatannya menarik, menantang, dan
meningkatkan motivasi
b) Mendapat pengalaman secara langsung
c) Kemampuan
berpikir kritis dalam memecahkan masalah semakin meningkat
d) Tidak membuat siswa takut
b. Guru
senang karena mampu mengkondisikan anak agar mampu:
a) Berani mencoba/berbuat
b) Berani bertanya
c) Berani memberikan gagasan/pendapat
d) Berani mempertanyakan gagasan orang lain
Guru
mempunyai tanggung jawab yang besar dalam merealisasikan peran di atas.
Gambaran PAIKEM diperlihatkan dengan berbagai kegiatan selama pembelajaran.
Pada saat yang sama, gambaran tersebut menunjukkan kemampuan yang perlu
dikuasai guru untuk menciptakan keadaan tersebut.
Agar
pelaksanaan PAIKEM berjalan sebagaimana diharapkan, John B. Biggs and Ross
Telfer, dalam Anwar Fuady, menyebutkan paling tidak ada 12 aspek dari sebuah
pembelajaran kreatif, yang harus dipahami dan dilakukan oleh seorang guru yang
baik dalam proses pembelajaran terhadap siswa:
a. Memahami
potensi siswa yang tersembunyi dan mendorongnya untuk berkembang sesuai dengan
kecenderungan bakat dan minat mereka.
b. Memberikan
kesempatan kepada siswa untuk belajar meningkatkan rasa tanggung jawab dalam
melaksanakan tugas dan bantuan jika mereka membutuhkan.
c. Menghargai
potensi siswa yang lemah/lamban dan memperlihatkan entuisme terhadap ide serta
gagasan mereka.
d. Mendorong
siswa untuk terus maju mencapai sukses dalam bidang yang diminati dan
penghargaan atas prestasi mereka.
e. Mengakui
pekerjaan siswa dalam satu bidang untuk memberikan semangat pada pekerjaan lain
berikutnya.
f. Menggunakan
kemampuan fantasi dalam proses pembelajaran untuk membangun hubungan dengan
realitas dan kehidupan nyata.
g. Memuji
keindahan perbedaan potensi, karakter, bakat dan minat serta modalitas gaya
belajar individu siswa.
h. Mendorong
dan menghargai keterlibatan individu siswa secara penuh dalam proyek-proyek
pembelajaran mandiri.
i. Menyatakan kapada para siswa bahwa
guru-guru merupakan mitra mereka dan perannya sebagai motivator dan fasilitator
bagi siswa.
j. Menciptakan suasana belajar yang
kondusif dan bebas dari tekanan dan intimidasi dalam usaha meyakinkan minat
belajar siswa.
k. Mendorong
terjadinya proses pembelajaran interaktif, kolaboratif, inkuiri dan penemuan
agar terbentuk budaya belajar yang bermakna (meaningful learning) pada
siswa.
l. Memberikan tes/ujian yang bisa
mendorong terjadinya umpan balik dan semangat/gairah pada siswa untuk ingin
mempelajari materi lebih dalam.
Proses
pembelajaran akan berlangsung seperti yang diharapkan dalam pelaksanaan konsep
PAIKEM jika peran para guru dalam berinteraksi dengan siswanya selalu
memberikan motivasi, dan memfasilitasinya tanpa mendominasi, memberikan
kesempatan untuk berpartisipasi aktif, membantu dan mengarahkan siswanya untuk
mengembangkan bakat dan minat mereka melalui proses pembelajaran yang
terencana. Perlu dicatat bahwa tugas dan tanggung jawab utama para guru dalam
paradigma baru pendidikan ”bukan membuat siswa belajar” tetapi ”membuat siswa
mau belajar”, dan juga ”bukan mengajarkan mata pelajaran” tetapi ”mengajarkan
cara bagaimana mempelajari mata pelajaran ”. Prinsip pembelajaran yang perlu
dilakukan: ”Jangan meminta siswa Anda hanya untuk mendengarkan, karena mereka
akan lupa. Jangan membuat siswa Anda memperhatikan saja, karena mereka hanya
bisa mengingat. Tetapi yakinkan siswa Anda untuk melakukannya, pasti mereka
akan mengerti”.
Berbicara
tentang pendekatan, model, strategi, metode, dan teknik mana yang relevan
dengan pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan,
pada dasarnya semua pendekatan, model, strategi, metode, dan teknik adalah
relevan dan cocok diterapkan dalam pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif,
efektif, dan menyenangkan. Guru hanya tinggal menyesuaikan strategi, teknik,
metode atau model mana yang akan dipilih dengan mempertimbangkan berbagai
potensi dan kemampuan yang dimiliki baik oleh sekolah, guru, maupun siswa.
Masing-masing model, strategi, teknik, dan metode memiliki karakteristik
masing-masing, termasuk kelebihan dan kekurangannya.
G. Model
Pembelajaran yang Berorietasi pada PAIKEM
1. Examples Non Examples
Langkah-langkah
:
· Guru mempersiapkan gambar-gambar
sesuai dengan tujuan pembelajaran
· menempelkan gambar di papan atau ditayangkan
melalui OHP
· Guru memberi petunjuk dan memberi
kesempatan pada siswa untuk
memperhatikan/menganalisa gambar
· Melalui diskusi kelompok 2-3 orang
siswa, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas
· Tiap kelompok diberi kesempatan
membacakan hasil diskusinya
· Mulai dari komentar/hasil diskusi
siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai
· Kesimpulan
2. Picture
And Picture
Langkah-langkah
:
· Guru menyampaikan kompetensi yang
ingin dicapai
· Menyajikan materi sebagai pengantar
· Guru menunjukkan/memperlihatkan
gambar-gambar kegiatan berkaitan dengan materi
· Guru menunjuk/memanggil siswa secara
bergantian memasang/mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis
· Guru menanyakan alasan/dasar
pemikiran urutan gambar tersebut
· Dari alasan/urutan gambar tersebut
guru memulai menamkan konsep/materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai
· Kesimpulan/rangkuman
3. Numered Head Together
Langkah-langkah
:
· Siswa dibagi dalam kelompok, setiap
siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor.
· Guru memberikan tugas dan
masing-masing kelompok mengerjakannya
· Kelompok mendiskusikan jawaban yang
benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya/mengetahui
jawabannya
· Guru memanggil salah satu nomor
siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka
· Tanggapan dari teman yang lain,
kemudian guru menunjuk nomor yang lain
· Kesimpulan
4. Cooperative script
Skrip
kooperatif : metode belajar dimana siswa bekerja berpasangan dan
bergantian secara lisan mengikhtisarkan, bagian-bagian dari materi yang
dipelajari. (Dansereau CS., 1985)
Langkah-langkah
:
· Guru membagi siswa untuk berpasangan
· Guru membagikan wacana/materi tiap
siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan
· Guru dan siswa menetapkan siapa yang
pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar
· Pembicara membacakan ringkasannya
selengkap mungkin, dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya.
Sementara
pendengar :
· Menyimak/mengoreksi/menunjukkan
ide-ide pokok yang kurang lengkap
· Membantu mengingat/menghafal ide-ide
pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya
· Bertukar peran, semula sebagai
pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya. Serta lakukan seperti
diatas.
· Kesimpulan Siswa bersama-sama dengan
Guru
· Penutup
5. Kepala Bernomor Struktur
Langkah-langkah
:
· Siswa dibagi dalam kelompok, setiap
siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor
· Penugasan diberikan kepada setiap
siswa berdasarkan nomorkan terhadap tugas yang berangkai. Misalnya : siswa
nomor satu bertugas mencatat soal. Siswa nomor dua mengerjakan soal dan siswa
nomor tiga melaporkan hasil pekerjaan dan seterusnya
· Jika perlu, guru bisa menyuruh kerja
sama antar kelompok. Siswa disuruh keluar dari kelompoknya dan bergabung
bersama beberapa siswa bernomor sama dari kelompok lain. Dalam kesempatan ini
siswa dengan tugas yang sama bisa saling membantu atau mencocokkan hasil kerja
sama mereka
· Laporkan hasil dan tanggapan dari
kelompok yang lain
· Kesimpulan
6. Student Teams-Achievement Divisions
(STAD)
Tim
Siswa Kelompok Prestasi (SLAVIN, 1995)
Langkah-langkah
:
· Membentuk kelompok yang anggotanya =
4 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku, dll)
· Guru menyajikan pelajaran
· Guru memberi tugas kepada kelompok
untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok. Anggotanya tahu menjelaskan
pada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
· Guru memberi kuis/pertanyaan kepada
seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu
· Memberi evaluasi
· Kesimpulan
7. Jigsaw (Model Tim Ahli)
Aronson,
Blaney, Stephen, Sikes, and Snapp (1978)
Langkah-langkah
:
· Siswa dikelompokkan ke dalam = 4
anggota tim
· Tiap orang dalam tim diberi bagian
materi yang berbeda
· Tiap orang dalam tim diberi bagian
materi yang ditugaskan
· Anggota dari tim yang berbeda yang
telah mempelajari bagian/sub bab yang sama bertemu dalam kelompok baru
(kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka
· Setelah selesai diskusi sebagai tim
ahli tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu
tim mereka tentang sub bab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya
mendengarkan dengan sungguh-sungguh
· Tiap tim ahli mempresentasikan hasil
diskusi
· Guru memberi evaluasi
· Penutup
8. Problem Based
Introductuon (PBI)
Langkah-langkah
:
· Guru menjelaskan tujuan
pembelajaran. Menjelaskan logistik yang dibutuhkan. Memotivasi siswa terlibat
dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.
· Guru membantu siswa mendefinisikan
dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut
(menetapkan topik, tugas, jadwal, dll.)
· Guru mendorong siswa untuk
mengumpulkan informasi yang sesuai, eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan
pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis, pemecahan masalah.
· Guru membantu siswa dalam
merencanakan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka
berbagi tugas dengan temannya
· Guru membantu siswa untuk melakukan
refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang
mereka gunakan.
- Kendala dan Tips dalam Model Pembelajaran PAIKEM
Menurut
Asmani (2011:191) beberapa kendala dan tips dalam aplikasi pembelajaran PAIKEM
yaitu:
1. Kendala
dalam PAIKEM
a. SDM
Guru
Dalam
penerapan PAIKEM, dibutuhkan guru yang kreatif, yaitu guru yang mampu mencari
celah ditengah keterbatasan, kepenatan dan kejenuhan siswa. Guru kreatif mampu
menyegarkan suasana, membangkitkan semangat dan memompa potensi siswa. Guru
kreatif mampu menyuguhkan variasi pendekatan strategi yang dinamis, kontekstual
dan produktif. Ironisnya, mayoritas guru masih banyak yang jauh dari kategori
kreatif ini. Mereka lebih suka menempatkan siswa sebagai objek, tidak
memberikan ruang diskusi interaktif dan hamya berpikir menuntaskan target
kurikulum, tanpa melihat daya serap anak didik.
b. Siswa Pasif
PAIKEM
membutuhkan mentalitas siswa yang aktif, kritis, analitis dan responsive.
Dengan mentalitas seperti ini, pembelajaran akan berjalan
dengan gayeng , berkualitas dan penuh makna. Siswa semakin kaya akan
pengetahuan, wacana dan informasi. Kedewasaan dan kematangan akan tumbuh dalam
berdiskusi. Mayoritas siswa dinegeri ini masih termasuk kategori pasif. Mereka
belum terbiasa untuk bertanya, berdiskusi dan berdebat. Ini tidak lepas dari
fakta selama ini bahwa sekolah bukan lembaga yang menyamai berpikir kritis,
analitis dan solutif.
c. Sarana dan Prasarana
PAIKEM
membutuhkan sarana prasarana yang representative. Pengaturan ruang mempunyai
pengaruh besar dalam menciptakan animo dan antusiasme guru dan siswa. Dengan
ruangan yang dikondisikan, secaar psikologis guru dan siswa akan bergerak
motivasi untuk mempraktikannya. Tanpa sarana dan prasarana sebenarnya PAKEM
bisa dilaksanakan, tergantung kreativitas guru, namun hasilnya lebih memuaskan
apabila ada sarana prasarana yang mendukung.
d. Lemahnya Pengawasan
Guru
membutuhkan pengawasan dalam pengajarannya. Dalam aplikasi PAIKEM, pengawasan
harus lebih ditingkatkan. Dengan adanya pengawasan langsung, guru akan
terdorong untuk menerapkan PAIKEM dengan baik.
e. Manajemen kurang mendukung
Manajemen
tertutup, sentralistik dan dictator sudah harus dihilangkan dalam model
manajemen modern sekarang ini. Karena tidak mampu mengembangkan kretativitas
dan menghambat lahirnya inovasi spektakuler yang lainnya.
f. Anggaran
Memang
harus diakui, anggaran menjadi masalah klasik didunia pendidikan, khususnya
kalangan swasta yang tidak kreatif dan inovatif dalam mencari trobosan dana.
Berbeda halnya dengan kalangan swasta yang progresif dalam mengembangkan aspek
ekonomi. Mereka dengan leluasa merespon setiap perkembangan dan perubahan
dengan cepat dan akurat.
2. Tips
dalam aplikasi PAIKEM
a. Memprioritaskan
Pelatihan Guru
Ujung
tombak PAIKEM adalah guru. Ditangan gurulah terletak efektif tidaknya PAIKEM.
Oleh sebab itu, langkah yang pertama dan utama untuk meyukseskan program ini
adalah mengadakan pelatihan guru secara intensif dan ektensif.
b. Optimalisasi Microteaching
Microteaching menjadi
trobosan progresif dalam pengajaran. Microteaching ini bisa dijadikan
eksperimentasi PAIKEM.
c. Mencoba Teamteaching
Teamteaching
adalah sisten mengajar yang diasuh oleh beberapa guru yang mempunyai keahlian
mendalam (tim). Misalnya IPA diasuh oleh 2 guru, yang satu menerangkandan yang
lainnya mengamati dalam kelas untuk melihat respons siswa dan berusaha
menggugah semangat belajar siswa.
d. Menerapkan Moving Class
Moving
class adalah system pembelajaran di mana siswa harus berpindah-pindah kelas,
sesuai pelajaran yang diajarkan. Siswa perlu suasana, tempat dan kondisi baru
sehingga tidak jenuh.
e. Berlatih Membuat Ice Breaker
Salah
satu cirri PAIKEM adalah menyenangkan. Oleh karena itu, guru harus mampu
membuat suasana gembira, misalnya dengan membuat ice breaker (pemecah kebekuan)
agar suasana menjadi cair, humoris dan tidak tegang.
f. Membuat Diktat Praktis
Ketika
menyusun diktat, guru harus menulisnya denga gaya PAIKEM, yaitu diktat yang
bisa menjadi panduan pembelajran interaktif, menyenangkan dan mempunyai
kualitas tinggi.
g. Sedikit Bicara Banyak Diamnya
Guru
yang baik adalah guru yang sedikit bicara banyak diamnya. Sedangkan siswa yang
baik adalah yang banyak bicara, sedikit diamnya. Artinya, guru berusaha menahan
diri untuk tidak banyak berbicara. Biarkan siswa-siswa mengekspresikan gagasan
dan pemikirannya secara leluasa.
- Kekurangan dan Kelebihan Model Pembelajaran PAIKEM
1. Kelebihan PAIKEM
a. Dalam pakem siswa belajar bekerja sama
b. Paikem mendorong siswa menghasilkan karya kreatif
c. Paikem menghargai potensi semua siswa
d. Peserta didik akan lebih termotivasi untuk belajar karena adanya variasi dalam proses
pembelajaran
e. Peserta didik dapat lebih mengembangkan dirinya
f. Peserta didik tidak jenuh dengan pembelajaran di kelas
g. Mental dan fisik peserta didik akan terasah secara optimal
h. Peserta didik terlibat secara aktif baik fisik, mental maupun emosional
i. Kegiatan pembelajarannya memungkinkan terjadinya interaksi multi arah
j. Metode ini mampu melatih siswa untuk berpikir tingkat tinggi.
k. Melatih siswa menumbuhkan kemampuan berfikir mandiri
2. Kekurangan PAIKEM
a. Membutuhkan waktu yang lebih lama untuk siswa sehingga sulit mencapai target kurikulum
b. Membutuhkan kemampuan khusus guru sehingga tidak semua guru dapat melakukannya.
c. Karena guru memainkan peran pusat dalam model ini, kesuksesan strategi pembelajaran ini bergantung pada image guru.
d. Membutuhkan dana, dalam pembelajaran PAIKEM sering kita memakai media sehingga membutuhkan biaya yang lebih untuk menunjang proses pembelajaran
e. Pengembangan RPP, dalam pembelajaran PAKEM guru dituntut untuk kerja extra dalam pengembangan pembuatan RPP agar dapat menciptakan pembelajaran yang diinginkan
f. Manajemen kelas, dalam pembelajaran ini guru harus selalu dapat menciptakan suasanakelas yang kondusif dan menyenangkan.
- Implemetasi Model Pembelajaran PAIKEM dalam Pembelajaran PKn SD
Sekurang-kurangnya
ada dua alasan mengapa pendekatan PAIKEM diterapkan di Indonesia, yakni:
Pertama, PAIKEM lebih memungkinkan peserta didik dan guru sama-sama aktif
terlibat dalam pembelajaran. Selama ini kita mengenal pembelajaran model
konvensional yang dinilai hanya guru yang aktif (monologis), sementara peserta
didiknya pasif, sehingga pembelajarannya dinilai menjemukan, kurang menarik,
dan tidak menyenangkan. Kedua, PAIKEM lebih memungkinkan, baik peserta
didik maupun guru sama-sama kreatif. Guru berupaya kreatif, mencoba berbagai
cara melibatkan semua peserta didiknya dalam pembelajaran. Sementara peserta
didik juga dituntut kreatif pula dalam berinteraksi dengan sesama teman, guru,
maupun bahan ajar dengan segala alat bantunya sehingga pada akhirnya hasil
pembelajaran dapat meningkat. Dalam pembelajaran Model PAIKEM, seorang guru mau
tidak mau harus berperan aktif, proaktif dan kreatif untuk mencari dan
merancang media/bahan ajar alternatif yang mudah, murah dan sederhana tetapi
tetap memiliki relevansi dengan tema mata pelajaran yang sedang dipelajari
siswa. Penggunaan perangkat multimedia seperti ICT sungguh sangat ideal, tetapi
tidak semua sekolah mampu mengaksesnya. Tanpa merendahkan sifat dan nilai
multimedia elektronik, para guru dapat memilih dan merancang media pembelajaran
alternatif dengan menggunakan berbagai sumber lainnya, seperti bahan baku yang
murah dan mudah di dapat, seperti bahan baku kertas/plastik, tumbuh-tumbuhan,
kayu dan sebagainya, guna memotivasi dan merangsang proses pembelajaran yang
kreatif dan menyenangkan.
Model
pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan, atau yang
kita sebut dengan PAIKEM itu tidak selalu mahal. Unsur kreativitas itu bukan
terletak pada produk/media yang sudah jadi, tetapi lebih pada pola pikir dan
strategi yang digunakan secara tepat oleh seorang guru itu sendiri dalam
merancang dan mengajarkan materi pelajarannya. Seperti misalnya bagaimana
seorang guru sains di sebuah sekolah menggunakan alat peraga simulasi
(Holikopter) yang dibuat dari kertas karton yang diapungkan di depan kelas
dengan menggunakan sebuah blower untuk memudahkan para siswa dalam memahami
prinsip-prinsip yang berkaitan dengan mata pelajaran tersebut. Proses
pembelajarannya mudah dipahami dan sangat menyenangkan. Media simulasi ini
tidak dibeli sudah jadi, tetapi dirancang oleh seorang guru mata pelajaran
sains itu sendiri. Dalam merancang sebuah media pembelajaran, aspek yang paling
penting untuk diperhatikan oleh seorang guru adalah karakteristik dan modalitas
gaya belajar individu peserta didik. Media yang dirancang harus memiliki daya
tarik tersendiri guna merangsang proses pembelajaran yang menyenangkan.
Sementara ini media pembelajaran yang relatif cukup representatif digunakan
adalah media elektronik (Computer – Based Learning). Selanjutnya skenario
penyajian ’bahan ajar’ harus dengan sistem modular dengan mengacu pada
pendekatan Taksonomi Bloom. Ini dimaksudkan agar terjadi proses pembelajaran
yang terstruktur, dinamis dan fleksibel, tanpa harus selalu terikat dengan
ruang kelas, waktu dan/atau guru.
Tujuan
akhir mempelajari sebuah mata pelajaran adalah agar para siswa memiliki
kompetensi sebagaimana ditetapkan dalam Standar Kompetensi (Kurikulum
Nasional). Untuk itu langkah/skenario penyajian pembelajaran dalam setiap
topik/mata pelajaran harus dituliskan secara jelas dalam sebuah Modul. Dengan
demikian diharapkan para siswa akan terlibat dalam proses pembelajaran tuntas
(Mastery Learning) dan bermakna (Meaningful Learning).
Dalam
mendesain pembelajaran PAIKEM, menurut Jamal Ma’mur Asmani (2011: 150) ada lima
prinsip utama yang harus diperhatikan yaitu.
1) Prinsip kesiapan dan motivasi
Dalam
kegiatan belajar, siswa yang memiliki kesiapan seperti kesiapan mental, fisik,
dan motivasi tinggi maka hasil belajarnya akan lebih baik.
2) Prinsip penggunanan alat pemusat
perhatian
Cara
yang dapat digunakan untuk mengarahkan perhatian siswa adalah :
a) Mengkaitkan pelajaran dengan
pengalaman atau kehidupan siswa.
b) Menggunakan alat bantu pemusat
perhatian misalnya media pembelajaran dan alat peraga.
c) Menghubungkan pesan pembelajaran
yang sedang dipelajari dengan topik yang sudah dipelajari.
d) Mengunakan musik penyeling.
e) Menciptakan suasana riang.
f) Teknik penyajian yang bervariasi.
g) Mengurangi bahan/materi yang tidak
relevan.
3) Prinsip partisipasi aktif
siswa
Cara
yang dapat ditempuh adalah :
a) Memberikan pertanyaan saat PBM
berlangsung
b) Mengerjakan latihan setiap akhir
suatu bahasan
c) Membuat percobaan dan memikirkan
atas hipotesis yang diajukan
d) Membentuk kelompok belajar
e) Menerapkan pembelajaran kontekstual,
kooperatif, dan kolaboratif.
4) Prinsip umpan balik
Cara
yang ditempuh adalah :
a) Memberikan soal kemudian membahas
soal tersebut
b) Memberikan tugas kemudian memberikan
coretan atau komentar terhadap pekerjaan siswa
5) Prinsip pengulangan
Pengulangan
dapat dilakukan dengan memperdengarkan hasil rekaman saat guru mengajar atau
memberikan tugas kepada siswa untuk membaca buku dengan topik yang sama.
Pelaksanaan Pakem harus memperhatikan bakat, minat dan modalitas belajar siswa,
dan bukan semata potensi akademiknya. Dalam pendekatan pembelajaran Quantum
(Quantum Learning) ada tiga macam modalitas siswa, yaitu modalitas visual,
auditorial, dan kinestetik. Dengan modalitas visual dimaksudkan bahwa kekuatan
belajar siswa terletak pada indera ‘mata’ (membaca teks, grafik atau dengan
melihat suatu peristiwa), kekuatan auditorial terletak pada indera
‘pendengaran’ (mendengar dan menyimak penjelasan atau cerita), dan kekuatan
kinestetik terletak pada ‘perabaan’ (seperti menunjuk, menyentuh atau
melakukan). Jadi, dengan memahami kecenderungan potensi modalitas siswa
tersebut, maka seorang guru harus mampu merancang media, metoda/atau materi
pembelajaran kontekstual yang relevan dengan kecenderungan potensi atau
modalitas belajar siswa.
Dalam
proses pelaksanaan PAIKEM menurut Jamal Ma’mur Asmani (2011:99), ada beberapa
hal yang harus diperhatikan antara lain.
1) Memahami sifat yang dimiliki
anak.
Pada
dasarnya anak memiliki sifat: rasa ingin tahu dan berimajinasi. Anak desa, anak
kota, anak orang kaya, anak orang miskin, anak Indonesia, atau anak bukan
Indonesia – selama mereka normal – terlahir memiliki kedua sifat itu. Kedua
sifat tersebut merupakan modal dasar bagi berkembangnya sikap/berpikir kritis
dan kreatif. Kegiatan pembelajaran merupakan salah satu lahan yang harus kita
olah sehingga subur bagi berkembangnya kedua sifat, anugerah Tuhan, tersebut.
Suasana pembelajaran dimana guru memuji anak karena hasil karyanya, guru
mengajukan pertanyaan yang menantang, dan guru yang mendorong anak untuk
melakukan percobaan, misalnya, merupakan pembelajaran yang subur seperti yang
dimaksud.
2) Mengenal anak secara perorangan
Para
siswa berasal dari lingkungan keluarga yang bervariasi dan memiliki kemampuan
yang berbeda. Dalam PAIKEM (Pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan
menyenangkan) perbedaan individual perlu diperhatikan dan harus tercermin dalam
kegiatan pembelajaran. Semua anak dalam kelas tidak selalu mengerjakan kegiatan
yang sama, melainkan berbeda sesuai dengan kecepatan belajarnya. Anak-anak yang
memiliki kemampuan lebih dapat dimanfaatkan untuk membantu temannya yang lemah
(tutor sebaya). Dengan mengenal kemampuan anak, kita dapat membantunya bila
mendapat kesulitan sehingga belajar anak tersebut menjadi optimal.
3) Memanfaatkan perilaku anak dalam
pengorganisasian belajar
Sebagai
makhluk sosial, anak sejak kecil secara alami bermain berpasangan atau
berkelompok dalam bermain. Perilaku ini dapat dimanfaatkan dalam
pengorganisasian belajar. Dalam melakukan tugas atau membahas sesuatu, anak
dapat bekerja berpasangan atau dalam kelompok. Berdasarkan pengalaman, anak
akan menyelesaikan tugas dengan baik bila mereka duduk berkelompok. Duduk
seperti ini memudahkan mereka untuk berinteraksi dan bertukar pikiran. Namun
demikian, anak perlu juga menyelesaikan tugas secara perorangan agar bakat
individunya berkembang.
4) Mengembangkan kemampuan berpikir
kritis, kreatif, dan kemampuan memecahkan masalah
Pada
dasarnya hidup ini adalah memecahkan masalah. Hal ini memerlukan kemampuan
berpikir kritis dan kreatif. Kritis untuk menganalisis masalah; dan kreatif
untuk melahirkan alternatif pemecahan masalah. Kedua jenis berpikir tersebut,
kritis dan kreatif, berasal dari rasa ingin tahu dan imajinasi yang keduanya
ada pada diri anak sejak lahir. Oleh karena itu, tugas guru adalah
mengembangkannya, antara lain dengan sering-sering memberikan tugas atau
mengajukan pertanyaan yang terbuka. Pertanyaan yang dimulai dengan kata-kata
“Apa yang terjadi jika …” lebih baik daripada yang dimulai dengan kata-kata
“Apa, berapa, kapan”, yang umumnya tertutup (jawaban betul hanya satu).
5) Mengembangkan ruang kelas sebagai
lingkungan belajar yang menarik
Ruang
kelas yang menarik merupakan hal yang sangat disarankan dalam PAIKEM. Hasil pekerjaan
siswa sebaiknya dipajangkan untuk memenuhi ruang kelas seperti itu. Selain itu,
hasil pekerjaan yang dipajangkan diharapkan memotivasi siswa untuk bekerja
lebih baik dan menimbulkan inspirasi bagi siswa lain. Yang dipajangkan dapat
berupa hasil kerja perorangan, berpasangan, atau kelompok. Pajangan dapat
berupa gambar, peta, diagram, model, benda asli, puisi, karangan, dan
sebagainya. Ruang kelas yang penuh dengan pajangan hasil pekerjaan siswa, dan
ditata dengan baik, dapat membantu guru dalam pembelajaran karena dapat
dijadikan rujukan ketika membahas suatu masalah.
6) Memanfaatkan lingkungan sebagai
sumber belajar
Lingkungan
(fisik, sosial, atau budaya) merupakan sumber yang sangat kaya untuk bahan
belajar anak. Lingkungan dapat berperan sebagai media belajar, tetapi juga
sebagai objek kajian (sumber belajar). Penggunaan lingkungan sebagai sumber
belajar sering membuat anak merasa senang dalam belajar. Belajar dengan
menggunakan lingkungan tidak selalu harus keluar kelas. Bahan dari lingkungan dapat
dibawa ke ruang kelas untuk menghemat biaya dan waktu. Pemanfaatan lingkungan
dapat men-gembangkan sejumlah keterampilan seperti mengamati (dengan seluruh
indera), mencatat, merumuskan pertanyaan, berhipotesis, mengklasifikasi,
membuat tulisan, dan membuat gambar/diagram.
7) Memberikan umpan balik yang baik
untuk meningkatkan kegiatan belajar
Mutu
hasil belajar akan meningkat bila terjadi interaksi dalam belajar. Pemberian
umpan balik dari guru kepada siswa merupakan salah satu bentuk interaksi antara
guru dan siswa. Umpan balik hendaknya lebih mengungkap kekuatan daripada
kelemahan siswa. Selain itu, cara memberikan umpan balik pun harus secara
santun. Hal ini dimaksudkan agar siswa lebih percaya diri dalam menghadapi
tugas-tugas belajar selanjutnya. Guru harus konsisten memeriksa hasil pekerjaan
siswa dan memberikan komentar dan catatan. Catatan guru berkaitan dengan
pekerjaan siswa lebih bermakna bagi pengembangan diri siswa daripada hanya
sekedar angka.
8) Membedakan antara aktif fisik dan
aktif mental
Banyak
guru yang sudah merasa puas bila menyaksikan para siswa kelihatan sibuk bekerja
dan bergerak. Apalagi jika bangku dan meja diatur berkelompok serta siswa duduk
saling berhadapan. Keadaan tersebut bukanlah ciri yang sebenarnya dari PAIKEM.
Aktif mental lebih diinginkan daripada aktif fisik. Sering bertanya,
mempertanyakan gagasan orang lain, dan mengungkapkan gagasan merupakan
tanda-tanda aktif mental. Syarat berkembangnya aktif mental adalah tumbuhnya
perasaan tidak takut: takut ditertawakan, takut disepelekan, atau takut
dimarahi jika salah. Oleh karena itu, guru hendaknya menghilangkan penyebab
rasa takut tersebut, baik yang datang dari guru itu sendiri maupun dari
temannya. Berkembangnya rasa takut sangat bertentangan dengan pembelajaran
PAIKEM.
BAB III
PENUTUP
- Kesimpulan
Berdasarkan
paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa ) PAIKEM adalah singkatan dari
pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Aktif yang
dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus mampu menciptakan
suasana yang sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan dan
mengemukakan gagasan. pembelajaran inovatif adalah suatu proses
pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga berbeda dengan
pembelajaran pada umumnya yang dilakukan oleh guru. pembelajaran kreatif adalah
salah satu pembelajaran yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berpikir
siswa melalui penemuan-penemuan gagasan baru. pembelajaran yang efektif
adalah pembelajaran yang dapat menghasilkan belajar yang bermanfaat dan
terfokus pada siswa melalui penggunaan prosedur penggunaan yang
tepat. Pembelajaran yang menyenangkan adalah pembelajaran yang dinikmati
dengan baik oleh siswa.
- Saran
Saran
penulis dalam model-model pembelajaran sebagai kerangka untuk menycapai tujuan
para calon guru khususnya dan umumnya bagi para pembaca semoga dengan
adanya makalah ini bisa mendapatkan pengetahuan yang bisa diterapkan
saat mengajar sehingga apa yang dicita-citakan mengenai tujuan pendidikan
bangsa Indonesia yaitu untuk mewujudkan kecerdasan bangsa dapat tercapai.
DAFTAR PUSTAKA
Rusman.
2010. Model-model Pembelajaran. Jakarta:Raja GrafindoPersada.

Komentar
Posting Komentar